Senin, 07 Juli 2008

mewujudkan pendidikan estetis-artistik"tak berkepentingan"

mewujudkan pendidikan estetis-artistik"tak berkepentingan"

Ibarat singkong rebus yang mogol, mentah tidak, matang juga tidak. Demikianlah wajah dan isi pendidikan kita yang dalam kesejatiannya rasa indah dalam memberi-menerima ilmu begitu sulit dilukiskan, sehingga ranah pendidikan sekarang sering dirasa hambar dan samar disaksikan. Bisa dibilang, keindahan dan wujud seni dalam pendidikan sudah punah. Pendidikan sebagai karya estetik-artistik, kehilangan 2 (dua) dari tiga unsur pembentuk keindahan, yaitu kesatuan (unity) dan kesungguhan (intensity), dan yang tersisa tinggal kerumitan (complexity).
Soal didik-mendidik bukanlah karya seniman neoklasik yang lahir dalam abad ke-16 atau abad sebelum itu. Sejak manusia lahir atau sebelum konsepsi, ia sudah mendapat bentuk dari kekaryaan yang indah. Pendidikan dapat dinilai sebagai karya seni maupun keindahan alamiah. Adanya campur tangan manusia -dalam mengelola anak dan orang dewasa- dalam segala proses pedagogis maupun andragogisnya telah mencirikan bahwa didik-mendidik adalah karya seni. Pendidikan dalam bentuk alamiahnya bukanlah intisari alam, karena pendidikan diadakan bukan semata-mata untuk memenuhi nilai estetisnya. Pendidikan tidak sekadar ada belaka, tetapi dinikmati dengan pertimbangan-pertimbangan tujuan pengetahuan (ontologis), proses pencapaian (epistemologis), dan manfaat (aksiologis).
Kini, “kerumitan” sebagai sisa unsur estetika pendidikan -yang tidak indah- yaitu semua pihak masih mencari formasi generasi beruntung dalam status sosial. Biaya pendidikan makin mahal, dan “orang miskin dilarang sekolah”. Idealisme yang makin surut karena goyangan kepentingan yaitu niat kebenaran dalam memaknai pendidikan, sebab kita sudah terprovokasi oleh asumsi “bersekolah demi kekayaan dan kehormatan”.
Keindahan pendidikan berwujud karya alamiah dan seni mulai dicemari oleh artistika dan sosio-kultural manusia itu sendiri. Pelibatan yang berkontaminasi ini menunjukkan gejalanya, ketika terlalu mengagungkan pendidikan formal, padahal ada keluarga dan masyarakat. Jelasnya, agitasi orang tua dalam bentuk pelbagai perlakuan dan pembiasaan akan merusak nilai etis-estetik pendidikan. Jika mendidik telah disisipi spirit materialisme, maka tercemarlah keindahan didaktik-metodiknya. Ada benarnya memang, pendidikan sering diarahkan pada kegiatan bersekolah, lalu bekerja, mendapat uang, berkeluarga, dan ritualisme kehidupan lainnya. Namun, sesungguhnya bukan itu pencapaian apresiasi sebuah das sollen-das sein (harapan-realita) berpendidikan, tetapi ada wujud rasa “marem” atau kepuasan spiritual, inilah yang sering diabaikan.
Menilai karya -abstrak dan realis- tidaklah mudah, apalagi karya pendidikan, sebab ada pertautan sehidup-semati seperti dua sisi mata uang. Parameter keberhasilan yang hanya diukur dari materi, jelas menunjukkan adanya penurunan aksentuasi nilai. Pendidikan sebagai change of behavior terkikis oleh perubahan derajat kepuasan. Harusnya, intensitas menikmati pendidikan sebagai karya yang indah tidak terkungkung pada derajat bandha (kekayaan), tahta (kekuasaan), busana (pakaian indah). Harus diejawantahkan, sebuah penikmatan itu hanya untuk memperoleh kesenangan, kegairahan hidup, kepuasan rohani, dan kelegaan dalam kehidupan emosial spiritual manusia, tanpa banyak faktor pertimbangan lainnya yang dapat mengganggu. Sekarang, ketika sertifikasi guru semakin didengungkan, tidak sedikit yang berorientasi demi tunjangan dan bukannya profesionalitas. Apalagi ditambah makin seringnya demo guru yang hilang kesadaran hingga menelantarkan murid-muridnya. Apakah demikian itu pendidik yang memahami pendidikan sebagai etika-estetika yang “tak berkepentingan”.
Menganalogikan makna mendidik bukanlah seperti pekarangan yang tumbuh serumpun bambu, pemiliknya mungkin tidak menikmati keindahannya. Hal-hal yang mungkin berkutat dalam pikirannya ialah kegunaannya untuk membuat kandang ayam, atau rebungnya untuk dimasak sayur lodeh, batangnya yang tua ditebang dan dijual ke pasar. Tetapi, seorang seniman akan menuangkan bambu itu dalam karya seni untuk dinikmati keindahannya. Seperti halnya pendidikan, bukanlah anak itu lahir kemudian minum susu dari ibunya setiap hari, lalu disekolahkan, dan disebut “orang” ketika menjadi kaya raya. Unsur menariknya dalam konteks pendidikan, yaitu menjelmakan anak itu mulai sebelum orang tuanya menjadi Pasutri sampai akhir hayatnya. Dalam kesehariannya terjadi perimbangan jasmani-rohani yang bisa seiring tapi tak sejalan, bisa harmonis maupun disharmonis. Dengan demikian, mendidikkan anak adalah proses humanisasi yang mengambil tema ragawi-ukhrawi berwujud ngolah rasa, olah pikir, olah jiwa, dan olah raga. Inilah inti sesungguhnya keindahan pendidikan.
Mencermati visi nasionalisasi pendidikan secara mikro-makro, seperti tak ada habisnya menjelek-jelekkan upaya pemerintah (Depdiknas). Vonis inilah yang menyesatkan, meskipun kadangkalanya ada benarnya. Apalagi jika kritik itu berunsur politis, lagi-lagi soal ekspansi materialisme berjaya. Padahal, jika ingin menyejajarkan pendidikan sebagai keindahan, maka harus memposisikannya pada apresiasi yang menyenangkan penglihatan, rasa, dan pendengaran.
Mengutip catatan The Liang Gie (2004), kesenangan yang dibangkitkan oleh hal indah haruslah yang tidak berkepentingan (disinterested pleasure). Kalau seseorang melihat suatu pemandangan yang indah di lereng gunung, ia merasa senang tanpa mempunyai kepentingan apa-apa, maka pastilah itu keindahan dan seperti itulah pendidikan yang sesungguhnya. Tetapi jika seorang yang membangun rumah megah dan indah ditepi danau, kemudian melukiskan keindahan rumah itu kepada orang-orang dengan maksud menjualnya, maka itu bukan digolongkan dengan seni yang estetis-artistik. Demikianlah pendidikan itu, jika memberi pelajaran kepada anak soal ekonomi, mendalami sampai menjadi sarjana demi pekerjaan, uang, dan kekuasaan, ini dinamai unbeautifully education.
Kesalahan fatal pendidikan tertumpu pada hilangnya estetika pelajaran sejati, yaitu learning to live together. Manusia itu bebas, saling tergantung satu dengan yang lainnya, dan kebahagiaan setiap orang tergantung pada kebahagiaan semuanya. Pelajaran inilah yang harus direvitalisasi sebagai pelajaran pertama sekaligus terakhir. Manusia merupakan hasil seluruh ciptaan, sumber keindahan yang nyata. Oleh karena itu, jelas bahwa tujuan hidup adalah untuk berkembang ke arah keindahan. Alam, dalam semua aspeknya yang beraneka, berkembang menuju keindahan.
Seperti diungkapkan oleh Sobry Sutikno (2004), dalam mendidik anak, pertimbangan pertama haruslah benih keindahan ditebarkan dalam hati mereka. Saat tanaman itu tumbuh dia harus dirawat dengan sabar. Kesuburannya menjadi kesenangan penanamnya sehingga perkembangan anak merupakan tanggung jawab orang tuanya. Pelajaran pertamanya adalah menyelaraskan pemikiran, perkataan, dan tindakannya.
Menciptakan karya jenius, diwujudkan dengan pijakan awal berupa penanaman bahwa dirinya sendiri adalah jiwa-raga berharga yang indah dan sempurna, tetapi kesempurnaan itu dapat rusak karena mereka tidak menghargai dirinya sendiri. Manusia ialah benda bernyawa dan beraktualisasi diri, tampil sebagai pribadi yang terkadang indah, cantik, dan bisa juga buruk rupa. Disinilah, pendidikan, oleh dan untuk kebenaran, serta “tak berkepentingan”, berperan mewujudkan generasi yang estetis-artistik.
Penulis: Widodo
Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang,
Prodi Kurikulum dan Teknologi Pembelajaran
HP. 081548575997
Pendidikan, Etika dan Tatanan Kehidupan
Oleh Budiyanto, M.Pd
(Kepala SMA Islam Dian Didaktika Cinere)
”Makna sejati dari keagamaan bukan hanya melulu soal moralitas, tetapi moralitas yang tersentuh oleh emosi manusia, manusia adalah mahkluk spiritual yang memiliki emosi, bukan mahkluk emosional yang memiliki spiritual. Oleh karena itu kerangka emosional semestinya dibangun di atas kerangka dasar yang bersifat spiritual.” (Matthew Arnold )

Logika kita dan akal sehat kita, akan mengatakan pendidikan yang tinggi dan etika yang baik akan mempengaruhi tatanan kehidupan manusia, tetapi karena manusia dibesarkan dari lingkungan yang sangat heterogen bisa jadi logika itu menjadi tidak benar dan mungkin keliru sama sekali. Kisah klasik” Dr Jekyl and Mr. Hyde” karya Louis Stevenson yang bercerita tentang seorang dokter penolong yang juga pembunuh, adalah bukti dari tidak adanya jaminan bahwa pendidikan tinggi dan etika yang baik itu, mempengaruhi tatanan kehidupan manusia.Di siang hari, Dr Jekyl sebagai seorang dokter yang sopan, santun dan beretika sangat baik yang selalu menyelamatkan kehidupan manusia, di malam hati ia sebagai seorang dokter pencabut nyawa. Ia membunuh pasiennya dengan opium. Mengapa Dr Jekyl melakukan hal ini ? Karena rasa dendam, ketika seorang ibunda tercintanya meninggal akibat sakit kangker. Ia beranggapan bahwa Tuhan semaunya saja mencabut nyawa seseorang tanpa memiliki perasaan sedikit pun. Melihat kenyataan tersebut, menurut hipotesa penulis adalah, bahwa pendidikan tinggi dan etika yang baik belum tentu akan berpengaruh terhadap tatanan kehidupan yang positif apabila tidak disentuh dengan emosi yang cerdas dan spiritual yang tinggi. Tatanan kehidupan yang berkembang di Indonesia dapat ditinjau dengan beberapa hal. Disadari atau tidak bangsa Indonesia telah mengalami lima zaman berkaitan dengan tatanan perilaku kehidupan, baik yang menyentuh sector pendidikan maupun etika. Pengaruh tatanan kehidupan tersebut. Pertama, Zaman Kerajaan (feudal), perilaku kehidupan kala itu manusia sebagai hamba sahaya, titah seorang raja adalah merupakan peraturan, pendidikan hanya untuk kalangan tertentu, etika masyarakat kala itu sangat baik sebagaimana etika yang diterapkan di lingkunangan kerajaan, walaupun berkembang etika yang tidak berdasarkan nurani. Etika dan pendidikan sangat mempengaruhi tatanan kehidupan pada zaman ini, sehingga tatanan kehidupan terbentuklah kasta-kasta. Kedua, Zaman Penjajahan (Belanda dan Jepang), perilaku kehidupan bangsa Indonesia kala itu semakin terpuruk, manusia hanya sebatas seseorang yang hidup sebagai buruh, pendidikan terseleksi hanya untuk orang tertentu, pribadi dan etika tidak berkembang berdasarkan nurani akan tetapi berkembang berdasarkan rasa takut. Ketiga, Zaman Kemerdekaan, zaman ini merupakan jendela Istiqlal (kemerdekaan) bangsa Indonesia, anak bangsa mempunyai hak untuk menghirup udara kemerdekaan, pendidikan mulai berkembang untuk semua kalangan, etika masih tertata baik sebagaimana zaman kerajaan (feudal). Keempat, Zaman imbasnya revolusi industri, pendidikan berkembang pesat dan tatanan kehidupan manusia sudah semakin maju, etika semakin bergeser negatif, egoisme semakin tinggi terbukti pada zaman ini semua manusia ingin mendapatkan sesuatu untuk kepentingan sendiri, manusia ingin aman dari segala sector kehidupan baik pekerjaan, kesehatan, masa depan dan lain sebagainya. Kelima, Zaman Teknologi dan Informasi, pada zaman ini sering disebut zaman global, zaman ini dapat juga dikatakan zaman kewaspadaan dan kebijaksanaan karena perilaku pada generasi ini telah berkembang seiring dengan pesatnya tehnologi dan informasi. Pada generasi ini manusia dituntut untuk hidup kreatif, inovatif, produktif, kritis dan memiliki kemapuan untuk mengubah tantangan menjadi peluang. Pendidikan tidak lagi satu-satunya anggapan sebagai kunci keberhasilan hidup. Keberhasilan hidup manusia ditentukan oleh kemampuan manusia itu sendiri. Etika menjadi tidak popular, etika berjalan tergantung pada gaya hidup, bukan gaya hidup yang tergantung pada etika. Pada era ini manusia akan terseleksi sebagai peserta dalam mengisi panggung kehidupan. Pada generasi kelima ini manusia harus berpikir cepat, benar dan tepat, analisis tajam, dan kritis tetapi nilai-nilai etika, akhlak dan agama sudah mulai luntur. Generasi kelima merupakan generasi tuntutan zaman, kalau dikaji secara cermat dalam hipotesa penulis pada generasi kelima ini, sesungguhnya pendidikan dan etika sangat kecil pengaruhnya dalam tatanan kehidupan. Justru terbalik tatanan kehidupan mempengaruhi pendidikan dan etika. Inilah yang penulis katakan zaman kewaspadaan dan kebijaksanaan. Dimanakah kesalahannya? Apakah kesalahan pada pola pendidikannya? Atau kesalahan pada etikanya ? Identifikasi masalah ini menjadi PR kita semua. Seharusnya walaupun zaman bergerak cepat bahkan lari sekalipun yang namanya pendidikan dan etika serta agama harus mempengaruhi terhadap tatanan kehidupan manusia, mempengaruhi terhadap gaya hidup manusia. Pandangan manusia yang beragam terkadang menyamarkan kebenaran. Gambar dan foto yang tidak senonoh menurut kita bahkan menurut kajian agama dibilangnya seni, karena belum ada undang-undangnya maka etika, adat istiadat yang baik santun dan berbudaya itu, tak berdaya bahkan dianggap salah, sementara pornografi adalah seni yang memiliki nilai estetika yang sangat tinggi. Inilah yang terjadi pada zaman generasi kelima sekarang ini. Membangun etika, budaya dan nilai-nilai luhur adat istiadat bangsa ini bukan hanya tugas guru dan para ulama, tetapi tugas kita semua. Belum lama di salah satu sekolah SMA di Jakarta dikabarkan ada seorang murid yang tega mengunci seorang guru agamanya di kamar mandi. Pertanyaannya adalah begitu sudah rusakkah akhlak generasi bangsa ini ? Apakah wibawa guru sudah tidak ada lagi sekarang ini ? Apakah teladan guru, orangtua dan masyarakat sudah lenyap tertutup oleh tehnologi dan informasi canggih ini ? Kalau kita masih ingat Kan’an anak nabi Nuh yang ingkar kepada Allah dan berani kepada ayahnya itu apakah Nabi Nuh tidak memberikan teladan ? Apakah Nabi Muhammad yang dilempari kotoran onta ketika menyebarkan agama Islam itu juga tidak memberikan teladan ? para spiritual itu telah memberikan teladan yang sangat baik. Hanya karena egoisme, gengsi, mementingkan kepentingan pribadi demi keuntungan sesaat mereka rela menjual nilai-nilai kebenaran. Solusi terbaik dalam membina generasi ini adalah dengan memberikan kesadaran tentang arti pentingnya pendidikan, memberikan teladan dengan etika yang baik, memberikan pelatihan tentang emosi, dan tentang spiritual. Semoga kita diberikan kekuatan oleh Allah SWT dalam mendidik generasi kelima ini. Amin

Selasa, 01 Juli 2008

NILAI-NILAI PENDIDIKAN DI INDONESIA

Wajah Dunia Pendidikan Kita
Oleh Didi Junaedi HZ • 8th May, 2008 • Kategori: Opini •Dilihat:396 views •Kirim:Email This Post Email This Post

Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati setiap tanggal 2 Mei, telah kita lalui. Tetapi, pesan moral yang terkandung di dalam peristiwa penting tersebut hendaknya senantiasa up to date dan tidak pernah berlalu dalam kehidupan kita.

Melalui tulisan ini, penulis mengajak kita semua, anak bangsa negeri ini untuk memotret wajah dunia pendidikan kita saat ini. Dengan demikian diharapkan mampu menghadirkan semangat pada setiap individu masyarakat negeri ini untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan di tanah air tercinta ini.



Peran Pendidikan

Tidak dapat dipungkiri, bahwa pendidikan memunyai peranan yang sangat penting dalam proses kemajuan suatu bangsa. Semakin tinggi kualitas pendidikan di suatu bangsa, semakin tinggi pula kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) bangsa tersebut. Dan ini akan berimbas pada kemajuan peradaban bangsa tersebut. Sebaliknya, rendahnya kualitas pendidikan akan berdampak pada rendahnya mutu SDM, yang pada gilirannya akan menghambat kemajuan peradaban bangsa tersebut.

Persoalannya, untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas tidak semudah membalik telapak tangan. Diperlukan sejumlah prasyarat tertentu demi kelancaran proses penciptaan mutu pendidikan. Dari mulai tersedianya tenaga pengajar profesional, yang kompeten dan memiliki integritas serta dedikasi tinggi, terlengkapinya fasilitas serta sarana dan prasarana penunjang dalam proses belajar mengajar, serta efektif dan efisiennya kurikulum, dan sejumlah prasyarat lainnya.

Dalam konteks Indonesia, sejumlah prasyarat yang harus ada demi penciptaan mutu pendidikan tersebut belum seluruhnya terpenuhi. Kalaupun ada sekolah atau lembaga pendidikan yang memiliki sejumlah komponen prasyarat yang cukup memadai, tentu membebankan biaya yang tinggi kepada peserta didiknya. Sehingga, tidak mungkin terjangkau oleh masyarakat kebanyakan.

Inilah persoalan klise dalam dunia pendidikan di Indonesia. Di satu sisi, kita mendambakan kualitas pendidikan yang baik untuk seluruh lapisan masyarakat. Di sisi lain, untuk memperoleh kualitas pendidikan yang baik, masyarakat harus menyediakan dana yang tidak sedikit. Sementara, kondisi ekonomi sebagian besar masyarakat negeri ini sangat memprihatinkan.



Landasan Yuridis

Pada hakekatnya, bila merujuk pada Undang-Undang Dasar 1945, disebutkan dalam pasal 31 ayat 1 bahwa setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan dan pada ayat 2 disebutkan bahwa setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Dan dalam UU No. 20/2003 pasal 5, bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu.

Dari beberapa landasan yuridis di atas, maka jelas bahwa seluruh lapisan masyarakat negeri ini berhak mendapatkan pendidikan yang bermutu. Dan untuk memperolehnya, pemerintah berkewajiban untuk memfasilitasinya.

Ironisnya, pemerintah sebagai penyelenggara negara, hanya rajin mendengungkan pentingnya pendidikan bagi warga negara, tanpa memberikan solusi terbaik untuk penyelenggaraan pendidikan di seluruh jenjang pendidikan. Hal ini terlihat dengan kurangnya anggaran pendidikan, baik dalam APBN maupun APBD, yang sampai saat ini masih tidak lebih dari 20%. Kenyataan ini, memaksa kita untuk menunda keinginan memiliki pendidikan yang berkualitas.



Tujuan Pendidikan

Kita semua mafhum bahwa tujuan utama pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, menciptakan pribadi-pribadi berbudi pekerti luhur dan berakhlak mulia, serta membangun generasi mendatang dengan seperangkat intelektualitas, moralitas dan spiritualitas yang memadai.

Pendidikan, seperti diungkapkan para pakar, sejatinya merupakan sarana pembentukan manusia sempurna yang mengedepankan penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, kebenaran dan keadilan.

Pendidikan yang baik, bukan hanya sekedar transfer of knowledge. Menjejali anak didik dengan serangkaian ilmu pengetahuan semata, tanpa didasari oleh seperangkat nilai-nilai pendidikan yang substansial, seperti penanaman aspek kepribadian dan pembentukan sikap.

Pendidikan yang sesungguhnya, selain sebagai sarana aktivitas belajar-mengajar, seharusnya juga sebagai wadah penanaman nilai humanisme, pluralisme, dan inklusivisme. Model pendidikan seperti inilah, hemat penulis, yang merupakan sarana efektif bagi anak didik untuk menjalani kehidupan sosial di tengah masyarakat yang heterogen ini dengan penuh toleransi dan kedamaian.

Kenyataan yang terjadi di lapangan, proses pembelajaran tidak lebih dari sekedar transfer of knowledge. Para pendidik merasa telah selesai menjalankan tugasnya ketika materi pembelajaran telah disampaikan. Hasil akhir dari proses belajar mengajar hanya dilihat dari deretan angka-angka yang menghiasi buku rapor peserta didik. Adapun integritas moral dan penanaman nilai-nilai kemanusiaan terhadap peserta didik seringkali diabaikan. Akibatnya, para peserta didik berlomba-lomba mencari cara bagaimana agar mendapat nilai maksimal, tanpa memedulikan apakah cara yang ditempuh melanggar norma atau bahkan menginjak-injak moralitas.

Pelanggaran atas nilai-nilai moral, ternyata tidak hanya dilakukan oleh peserta didik, tetapi juga oleh para pendidik. Hal ini bisa dilihat, seperti dilansir sejumlah media cetak dan elektronik beberapa waktu lalu. Pada saat pelaksanaan Ujian Nasional (UN) Tahun 2008 untuk siswa SMA/MA/SMK, terjadi banyak sekali penyimpangan serta pelanggaran terhadap tata tertib UN.

Ada sejumlah oknum guru yang membocorkan soal ujian. Bahkan memberikan jawaban melalui sms ke ponsel para siswanya. Ada juga kepala sekolah serta guru bidang studi yang masuk ruangan UN dan mengoreksi jawaban peserta UN. Kesemua tindakan itu dilakukan demi menjaga nama baik sekolah tersebut.

Pelbagai perilaku tidak terpuji tersebut menunjukkan bahwa proses pendidikan di Indonesia ini masih kurang memedulikan nilai-nilai moral. Tingkat kelulusan yang ditentukan hanya dengan deretan angka hasil ujian, seakan menegaskan bahwa kecerdasan intelektual adalah segalanya. Sementara kecerdasan emosional, terlebih lagi kecerdasan spiritual masih belum mendapat tempat yang layak di dunia pendidikan kita.

Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini, hendaknya menjadi cermin untuk melihat realita dunia pendidikan di Indonesia. Apa saja yang masih perlu dibenahi. Mana yang harus diperbaiki, serta langkah apa yang harus segera diambil untuk mengatasi berbagai persoalan yang melingkupi dunia pendidikan di Indonesia. Semoga wajah dunia pendidikan di Indonesia memancarkan aura positifnya. Sehingga mampu membawa bangsa ini menuju kehidupan yang lebih baik.



Artikel Terkait:

* Pengembangan Sistem Belajar Mandiri Berbasis E-Learning
* Kontradiksi Pendidikan Tinggi
* Revolusi Pendidikan
* Kreativitas dalam Bingkai Moralitas
* Arif Menyikapi Bencana

Bookmark This
Didi Junaedi HZ

Didi Junaedi HZ , Aktif di Lembaga Pengembangan Masyarakat (LPM) Inspirasi Insani, Brebes.
Email Penulis | Semua Tulisan Didi Junaedi HZ
Website: http://didijunaedihz.wordpress.com
1 Komentar »

1. Anggiearanidipta on May 21st, 2008 at 8:33 am:

Pelanggaran nilai-nilai moral di atas merupakan buah dari cacatnya salah satu sub-sistem yang ada.. Bukan satu atau dua, tapi banyak hal yang perlu dibenahi dalam dunia pendidikan kita. Walau tidak secepat membalikkan telapak tangan tapi saya yakin, bidang pendidikan kita akan makin maju kedepannya. Amin.

kejadian unik di sekolah

KEJADIAN UNIK
Bocah TK Semaput
Makan Cokelat Isi Narkoba

Selasa, 10 Juni 2008
JAKARTA (Suara Karya): Lima orang bocah Taman Kanak-kanak (TK) Sekar Bangsa, Yayasan Panti Nugraha, Pondok Labu, Jakarta Selatan, Senin (9/6), semaput usai menelan cokelat yang ternyata narkoba Happy Five. Kelimanya berjalan dengan limbung sehingga menabrak pintu dan tembok kelas.

Seorang guru TK Sekar Bangsa, Yana, mengatakan, kelima anak itu berjalan sempoyongan usai mengonsumsi cokelat. "Saya pikir mereka keracunan," katanya. Melihat kondisi yang demikian, kelimanya, yakni Noval, Rida Wahyu, Andrian, Rushi Ilalang, serta Valerian Andri, segera dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Fatmawati, Jakarta Selatan.

Ke-5 bocak TK itu akhirnya dirawat di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Fatmawati. Rida mulai bisa bercerita. Namun, Andrian yang menelan lima pil Happy Five, yang mereka kira cokelat, hingga berita ini diturunkan masih dalam keadaan pingsan.

Pada kesempatan ber-beda, dokter di IGD RS Fatmawati, Dr Ugi Sugiri, mengungkapkan, Happy Five merupakan sejenis pil koplo dan merupakan varian barunya. "Happy Five menyebabkan efek melayang. Yang pakai obat ini langsung geleng-geleng. Efeknya fly dan serasa terbang seperti jenis narkoba lainnya," katanya menjelaskan. Sementara itu, Kapolsek Cilandak Kompol Makmur Simbolon, di RS Fatmawati, mengatakan, pihaknya segera mencari tahu dari mana lima anak TK itu mendapatkan pil narkoba Happy Five tersebut. Terungkap, "cokelat" itu diperoleh dari Sri, ibu korban yang bernama Rida Wahyu.

Pihak polisi pun segera menanyai Sri yang tengah menunggui anaknya, Rida Wahyu. "Kami juga menyelidiki Sri mendapatkan barang tersebut dari mana. Takutnya dia (Sri--Red) beli dari seseorang dan tidak mengetahui kalau itu narkoba," kata Kapolsek Cilandak. Ternyata Sri mengakui kalau "cokelat" itu diperolehnya dari sang suami yang baru pulang dari luar kota.

"Dari suami saya. Dari suami saya," kata Sri di RS Fatmawati, Jakarta Selatan. Dia mengungkapkan, cokelat itu diberikan suaminya sebagai oleh-oleh dari luar kota. Dia kemudian memberikan cokelat itu kepada anaknya, Rida Wahyu. Sang anak membawa cokelat itu ke sekolah dan membagikannya kepada teman-temannya. Sehingga, terjadilah kelima anak yang memakan cokelat itu fly.

Seperti diungkapkan Kapolsek Cilandak Kompol Makmur Simbolon, saat ini Kanit Narkoba Polsek Cilandak sedang mencari suami Sri untuk dimintai keterangan. "Masih diselidiki, belum pasti asal-muasalnya," ujar Kapolsek Cilandak.

Di bagian lain, bus pariwisata AG-6678-TU yang membawa rombongan anak TK terbakar di dekat Termimal Kota Batu, Malang, Jawa Timur. Diinformasikan, akibat peristiwa itu tiga orang meninggal dunia. "Kabarnya memang ada tiga yang meninggal. Tapi kita masih belum pasti," kata Agus, petugas sipil Polsek Batu. Peristiwa terbakarnya bus tersebut terjadi sekitar pukul 10.30 WIB. (Budi Seno/Andira)
Politik | Hukum | Ekonomi | Metropolitan | Nusantara | Internasional | Hiburan | Humor | Opini | About Us
Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i